Selasa, 19 Oktober 2010

“ PERAN WALISONGO DALAM PENYEBARAN ISLAM DI JAWA DAN GENERASI PENERUSNYA. “

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam penyiaran dan penyebaran agama Islam di Jawa pada zaman dahulu dipelopori oleh para mubaligh Islam yang lebih dikenal dengan sebutan “Wali”. Adapun para wali ini jumlahnya ada sembilan yang dianggap merupakan kepala kelompok dari sejumlah mubaligh-mubaligh Islam yang bertugas mengadakan operasi di daerah-daerah yang belum memeluk agama Islam . Konsep ''dewan wali'' berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin. Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa. Figur para wali --sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ''kepustakaan'' tutur-- selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ''kesepakatan'' tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.
Umumnya kita mengenal wali hanyalah sembilan orang yaitu : Syeikh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Maka dari itu kita sering menyebutnya dengan nama “Walisongo”.
Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila ada salah seorang wali tersebut pergi atau wafat maka akan segera diganti oleh wali lainnya.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. 
Mengenai nama-nama asli walisongo - kecuali Maulana Malik Ibrahim – hingga kini masih terdapat sedikit perbedaan. Hal itu dapat dimaklumi karena mereka pada umumnya tidak meninggalkan sumber rujukan. Adapun nama-nama yang didahului dengan sebutan “Sunan” semuanya berasal dari kata “Susuhunan” yang bermakna “yang mulia”. Demikian pula “Maulana” yang bermakna “pemimpin kita”. Semua nama julukan tersebut diberikan masyarakat Muslim Jawa pada masa dahulu karena ketika itu mereka belum mengenal dengan sebutan “Sayyid, Habib, dan Syarif “ yang lazim digunakan untuk menyebut nama-nama keturunan Ahlu Bait Rosululloh SAW. 
Menurut berbagai penyelidikan, agama Islam tersiar ke seluruh Tanah Jawa dan Nusantara ini dengan Jalan damai karena dengan berbagai hal yaitu :
• Para penyiar agama Islam yang datang mula-mula adalah para pedagang, ahli Sufi, dan para Wali.
• Para mubaligh itu menggunakan metode dakwah yang tepat sasaran yaitu sebagaimana tersebut dalam Al Qur'an yang berbunyi " Hendaklah engkau ajak orang ke Jalan Alloh dengan hikmah (kebijaksanaan), dengan peringatan-peringatan yang ramah serta bertukar fikiran dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya". (QS. An- Nahl : 125).
• Para mubaligh Islam tersebut dapat menyelami dan memahami watak dan jiwa bangsa Indonesia.
• Sifat toleransi dari bangsa Indonesia itu sedikit yang dapat menerima setiap yang datang dari luar kemudian disesuaikan dengan kepribadian sendiri.
• Penyiaran Islam di Jawa sebagian besar melalui saluran tasawuf.
• Dengan cara mengawinkan kepercayaan lama dengan kepercayaan baru inilah yang menyebabkan agama Islam dapat tersiar dengan damai.
Seperti tersebut dalam kitab Kanzul Ulum Ibnu Bathtutah yang penulisannya dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi, walisongo melakukan sidang tiga kali yaitu : 
 Tahun 1404 M adalah sembilan wali.
 Tahun 1438 M masuk tiga wali mengganti yang wafat.
 Tahun 1463 M masuk empat wali mengganti yang wafat dan pergi.
1. Walisongo Periode Pertama
Pada waktu Sultan Muhammad I memerintah Turki, beliau menanyakan perkemabangan agama Islam kepada para pedagang dari Gujarat (India). Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwa di pulau Jawa ada dua kerajaan Hindu yaitu, Padjajaran dan Mojopahit. Diantara rakyatnya ada yang beragama Islam tapi hanya terbatas pada keluarga para pedagang Gujarat yang nikah dengan para penduduk pribumi di kota-kota pelabuhan. 
Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada para pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para Ulama’ yang memiliki karomah untuk dikirim ke Pulau Jawa. Maka terkumpullah para Ulama’ yang berjumlah sembilan orang dan memiliki karomah.
Pada tahun 1404 M para Ulama’ itu berangkat ke Pulau Jawa, mereka adalah : 
1) Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki ahli mengatur negara . berdakwah di Jawa Timur. Wafat di Gersik pada tahun 1419 M.
2) Maulana Ishaq, berasal dari Samarkan (Rusia Selatan) ahli pengobatan. Tetapi beliau tidak menetap di Jawa. Beliau pindah ke Pasai dan wafat disana.
3) Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berasal dari Mesir. Beliau berdakwah keliling. Makamnya di Troloyo Trowulan Jawa Timur.
4) Maulana Ahmad Al Maghrobi, berasal dari Maghrib (Maroko). Beliau berdakwah keliling. Wafat tahun 1465 M. makamnya di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
5) Maulana Malik Isro’il, berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat tahun 1435 M. makamnya di Gunung Santri, Cilegon, Jawa Barat.
6) Maulana Muhammad Ali Akbar, bersal dari Persia (Iran). Ahli pengobatan. Wafat tahun 1435 M. makamnya di Gunung Santri, Cilegon, Jawa Barat.
7) Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat tahun 1462 M. Makamnya disamping Masjid Banten Lama.
8) Maulana Aliyyuddin, berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat tahun 1462 M Makamnya disamping Masjid Banten Lama.
9) Syekh Subakir, berasal dari Palestina, ahli menumbali tanah angker yang di huni Jin-jin jahat tukang menyesatkan manusia. Setelah banyak tempat yang ditumbali, maka Syekh Subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat disana.
2. Walisongo Periode Kedua
Pada periode kedua ini masuklah tiga orang wali menggantikan tiga wali yang wafat. Ketiganya adalah :
1) Raden Ahmad Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel), datang ke Jawa pada tahun 1421 M. menggantikan Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M. Raden Rahmat berasal dari Cempa.
2) Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), berasal dari Palestina, datang di Jawa pada tahun 1436 M. menggantikan Maulana Malik Isro’il yang wafat tahun 1435 M. 
3) Syarif Hidayatulloh, berasal dari Palestina Datang di Jawa pada tahun 1436 M. menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar yang wafat tahun 1435 M.
Sidang kedua ini diadakan di Ampel Surabya. Para wali kemudian membagi tugas, Raden Rahmat, Maulana Ishaq, dan Maulana Jumadil Kubro bertugas di Jawa Timur. Sunan Kudus, Syekh Subakir, dan Maulana Al Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syarif Hidayatulloh, Maulana Hasanuddin, dan Maulana Aliyyuddin bertugas di Jawa Barat.
Walisongo Periode Ketiga
Pada tahun 1463 M. masuklah empat Wali menjadi anggota Walisongo yaitu :
1) Raden Paku (Sunan Giri) kelahiran Blambangan, Jawa Timur. Putra dari Maulana Ishaq dengan putri Raja Blambangan. Beliau menggantikan ayahnya yang telah pindah ke Pasai. Makamnya terletak di Gresik Jawa Timur.
2) Raden Said (Sunan Kalijogo) kelahiran Tuban, Jawa Timur. Beliau adalah putra Adipati Wilatikta yang berkedudukan di Tuban. Beliau menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia.
3) Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang). Beliau adalah putra Sunan Ampel. Menggantikan Maulana Hasanuddin yang wafat tahun 1462 M.
4) Raden Qosim (Sunan Drajat). Beliau adalah putra Sunan Ampel. Menggantikan Maulana Aliyyuddin yang wafat tahun 1462.
Sidang Walisongo yang ketiga ini berlangsung di Ampel Surabya. Dan setelah sidang ini, kemudian diadakan sidang tambahan pada tahun 1466 M untuk menggantikan Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Al Maghrobi yang telah wafat. Mereka adalah : Raden Patah putra Prabu Brawijaya V dan Fathulloh Khan putra Sunan Gunung Jati. Dan masuklah juga Raden Umar Said putra Sunan Kalijogo menjadi anggota Walisongo.
Konon Syekh Siti Jenar juga termasuk anggota Walisongo. Namun karena mengajarkan ajaran sesat maka beliau dihukum mati. Selanjutnya, beliau digantikan oleh Sunan Tembayat murid dari Sunan Kalijogo. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar