Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Oktober 2010

Mengungkap Kematian Syekh Siti Jenar Karena Fatwa Wali atau Intrik Politik ?

Dalam pandangan umat Islam Indonesia pada umumnya, barangkali, hukuman mati yang dijatuhkan pada Syekh Siti Jenar merupakan akibat kesalahannya dalam pengajaran agama.Lebih khususnya,dalam hal pemahaman akan hakikat hablul min al-allah,hubungan manusia dengan Tuhan. Cerita-cerita yang diabadikan dalam seni tradisional Jawa,kethoprak,misalnya,juga demikian.Produk sinematrografi kita pun menyuguhkan jalan cerita yang tak jauh berbeda.Kebanyakan kitab juga menyatakan demikian.

Menurut K.H.Dachlan Abd.Qohar,anggota Konstituante yang menerjemahkan Kanzul Ulum (Gudang Ilmu) Ibn Bathuthah,yang penulisannya dilanjutkan oleh Maulana Maghribi,sepeninggal Sunan Ampel,Raden Paku menggantikannya sebagai pemimpin Walisongo.Ia pun memanggil wali lain untuk bermusyawarah.Mereka sepakat memanggil Syekh Siti Jenar untuk didudukkan sebagai anggota Walisongo.

Dikirimlah utusan ke Lemah Abang.Apa jawab Syekh Siti Jenar?”Kembalilah kamu ke Giri.Katakanlah kepada Sunan Giri bahwa Syekh Siti Jenar tidak ada.Yang ada disini hanya Allah Subhanahu wa ta’ala”.

Sunan Giri pun minta ia datang bersama Allah.Kali ini ia menjawab,”Suruh Sunan Giri mengaji lagi.Apa ia tidak tahu bahwa Allah ada di mana-mana,dan bahwa Allah lebih dekat daripada tenggorokan dan urat lehernya.”

Para wali menyerahkan masalah ini kepada Sultan Demak.Jawaban Syekh Siti Jenar tetap sama.Maka,soal itu diserahkan kepada Sunan Gunung Jati,yang pernah menjadi gurunya.Para wali pun mendampinginya di Masjid Agung Cirebon.Ketika dipanggil,Syekh Siti Jenar datang.Akan tetapi,ketika para wali bersembahyang,ia shalat batin alias hanya bersemedi.

Kedelapan wali pun bermufakat bahwa sikap Syekh lemah Abang atau Syekh Siti Jenar itu bisa merusak syariat.Bila orang mengikutinya,tak bedalah ibadahnya dari pada orang Hindu,yaitu bersemedi tanpa rukuk dan sujud,seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.Sunan Kudus menyatakan,ia harus di hukum mati.Dan,hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar di jatuhkan oleh Sunan Giri.

Setelah hal itu dilaksanakan,badannya dimakamkan di utara pengimaman Masjid Agung Cirebon,sedangkan kepalanya dikubur di Desa Melati,pada tahun 1480 M.Apa kata orang Cirebon tntang ini?Salah satu versi Babad Cirebon,yang tentu saja lebih menekankan kepemimpinan Sunan Gunung Jati,menceritakan pendebatan yang lebih panjang.Kisah ini ditutup dengan penguburan yang terjadi pada hari Rabu pertama Sapar 1529 M.Tercatat,versi lain lagi menyatakan terjadi pada 1506 M.

Kalimat sumpah atau kutukan yang di ucapkan menjelang ajal ialah,”Sunan Gunung Jati dan para wali,kelak pada akhir zaman,akan ada kerbau bule mata kucing yang mendarat dari laut.Itulah yang akan menumpas/menjajah turunanmu.”

Vonis Politik

Nukilan di atas memang menguatkan anggapan,hukuman mati yang di terima Syekh Siti Jenar merupakan akibat kesalahannya dalam mengajarkan agama.Salah satu naskah yang jelas-jelas menyatakan hukuman mati Syekh Siti Jenar sebagai pengadilan politik ialah serat Darmagandhul.

“Sawise masdjid dadi,banjur pada salat ana ing masdjid,sakbakdane salat,bandjur tutup lawang,wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang,jen Adipati Demak arep didjumenengake nata,sarta bandjur arep ngrusak Madjapahit,jen wis padha rudjuk,bandjur arep kepjakan tumuli.Para sunan lan para bupati wis padha rujuk kabeh,mung sidji kang ora rudjuk,ija iku Sjeck Siti Djenar.Sunan Benang duka,Sjeck Siti Djenar di pateni,dene kang kedhawuhan mateni ija iku Sunan Giri,Sjeck Siti Djenar dilawe gulune mati.”

(“Setelah masjid itu jadi,mereka bersama-sama salat di dalam masjid.Setelah salat,mereka menutup pintu.Semua orang diberi tahu oleh Sunan Benang bahwa Adipati Demak akan dijadikan raja,juga akan menyerang Majapahit.Jika sudah sama-sama bersepakat,mereka akan bersiap-siap melaksanakan.Para sunan dan bupati semuanya setuju,hanya satu yang tidak,yaitu Syekh Siti Jenar.Sunan Benang marah,Syekh Siti Jenar dibunuh.Adapun yang disuruh membunuh ialah Sunan giri,leher Syekh Siti Jenar dijerat mati.”)

“Sadurunge Sjech Siti Djenar tumeka ing pati,ninggal swara:Eling-eling ngulama ing Giri,kowe ora tak wales ing achirat,nanging tak wales ana ing donja kene bae,besuk jen ana Ratu Djawa kanthi wong tuwa,ing kono gulumu bakal tak lawe genti,”Sunan Giri mangsuli:’ija besuk wani,saiki wani,aku ora bakal mundur’.”

(“Sebelum menghembuskan napas terakhir,Syekh Siti Jenar berkata,”Ingatlah ulamadi Giri,kamu tidak kubalas di akhirat,melainkan di dunia saja.Kelak,bila ada raja Jawa berusia tua,saat itu kamu akan ganti kugantung.’Sunan giri menjawab,’Kelak berani,sekarang berani.Aku tidak akan mundur’.”)

Siapa yang menulis Dharmagandhul ? Menurut babon(naskah induk) asli yang di tinggalkan K.R.T.Tandhanagara,Purwasari.sala,kitab ini ditulis oleh orang yang mengaku murid Raden Budi Sukardi,pada hari Tumpak Manis (Rabu Legi) 2 Ruwah tahun Je: wuk guna ngesthi nata atau 1830 J (1318 H/1990 M).Akan tetapi,ahli sastra jawa,Bratakesawa,menyatakan,Darmagandhul,juga Gatholoco,ditulis oleh Pangeran Suryanegara,putra Sultan hamengku Buwana VI (1855-1877).

Baca Selengkapnya......

Al-Khansa, Ibu Para Syuhada

Air mataku terus bercucuran dan tak pernah mau membeku. (Berita SuaraMedia)Pada masa Jahiliyah tersebutlah seorang penyair wanita ulung bernama al-Khansa. Syair-syairnya begitu memikat. Simaklah syiar ratapan terbaik yang pernah diciptakannya , sesaat setelah kematian saudaranya yang bernama Shakr

Al-Khansa bernama Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid. Cahaya Islam yang ditebarkan Rasulullah di Jazirah Arab telah mengetuk pintu kesadarannya. Bersama beberapa orang dari kaumnya, sang penyair menghadap Rasulullah SAW. Ia menyatakan keislamannya dan bertekad membangun aqidah tauhid.

Sang penyair pun menjadi seorang Muslimah yang baik. Ia pun menjadi salah seorang Muslimah teladan sekaligus figur cemerlang dalam keberanian dan kemuliaan diri. Al-Khansa menjadi teladan mulia bagi para ibu Muslimah.
Suatu ketika Rasulullah SAW memintanya bersyair. Pemimpin terbaik sepanjang zaman itu mengagumi bait-bait syair al-Khansa’. Ketika al-Khansa sedang bersyair, Rasulullah SAW berkata, “Aduhai, wahai Khansa, hariku terasa indah dengan syairmu.”

Suatu ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, mereka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, serta orang yang paling pandai berkuda.”

Rasulullah SAW bersabda, “Siapakah mereka itu. Sebutkanlah namanya.” Adi menjawab, “Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umruul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Thai, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Madikariba.”

Rasulullah SAW berkata, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah SAW, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thalib.”

Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan dan pendidikan di bawah naungannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Al-Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada.

Ia adalah seorang ibu yang tegar. Al-Khansa telah berhasil mendidik keempat anaknya. Kelak keempat anak lelakinya gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah al-Khansa.

Keempat anaknya itu ingin turut berperang melawan tentara Persia. Mereka saling berdebat menentukan siapa yang harus tinggal di rumah mendampingi sang bunda. Perdebatan itu akhirnya sampai di telinga al-Khansa.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab RA, al-Khansa akhirnya berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, sesaat dua para pasukan siap berperang, al-Khansa mengumpulkan keempat putranya. Ia memberikan petuah, bimbingan serta mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan buah hatinya tetap istiqamah berperang di jalan Allah dan mengharapkan syahid.

Dengan penuh ketegaran al-Khansa bertutur,” “Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan dan tanpa paksaan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada Illah selain Dia.” Ia lalu melepas anak-anaknya dengan penuh haru dan ikhlas.

Hingga akhirnya, berita syahidnya empat bersaudara itu sampai di telinganya. Kesabaran dan keikhlasan tak membuatnya sedih ketika mendengar kabar itu. “Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.

Umar bin Khattab paham betul keutamaan al-Khansa dan putra-putranya. Khalifah Umar senantiasa memberikan bantuan yang menjati jatah keempat anaknya kepada al-Khansa, hingga ibu para syuhada itu wafat. Al-Khansa meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan RA, pada tahun ke-24 Hijriyah.(rpb)

Baca Selengkapnya......

Abu Ma’shar, Astrolog Islam Persia Pada Masa Abbasiyah

Abu Ma'shar karya astrologi arabnya yang terkenal. (Berita SuaraMedia)Al-Falaki. Gelar itu ditabalkan para ilmuwan di era kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah kepada Abu Mashar berkat kehebatannya dalam bidang astrologi (ilmu perbintangan). Gerrit Bos dalam tulisannya bertajuk Abu Mashar: The Abbreviation of the Introduction to Astrology, Together with the Medieval Latin Translation of Adelard of Bath, menyebut Abu Mashar sebagai astrolog hebat di abad ke-9 M.

Karya-karya Abu Mashar dalam bidang astrologi begitu populer dan sangat ber pengaru h bagi peradaban masyarakat Eropa Barat di abad pertengahan, ujar Bos. Betapa tidak. Sederet adikarya sang Astrolog Muslim itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Menurut Bos, Abu Mashar tak hanya berpengaruh dalam bidang astrologi, ia juga berkontribusi dalam bidang kedokteran.
Penjelasan mengenai soal epidemik, papar Bos, merupakan salah satu pengaruh besar Abu Mashar dalam bidang kedokteran di Eropa. Ia menghubungkan masalah kedokteran dengan fenomena luar angkasa lewat teorinya yang disangat popular, yakni Theory of the Great Conjunctions.

Menurut teori ini, hubungan planet tertentu dapat menyebabkan bencana alam dan politik, tutur Bos. Salah satu bencana besar yang dihubung-hubungkan para dokter di abad ke -14 dengan teori yang dicetuskan Abu Mashar adalah fenomena Black Death. Hal ini menunjukkan betapa pemikiran Abu Mashar begitu berpengaruh terhadap peradaban Barat.

Keiji Yamamoto dalam tulisannya tentang sejarah hidup Abu Mashar mengungkapkan, ilmuwan Muslim terkemuka di abad ke-9 M itu terlahir pada 10 Agustus 787 M di Balkh, Persia (sekarang Afganistan). Sejatinya ia memiliki nama lengkap Jafar ibnu Muhammad Abu Mashar al-Balkhi.

Selain dikenal dengan sebutan Abu Mashar, atrolog yang satu ini juga biasa disebut dengan panggilan Abulmazar. Abu Mashar merupakan seorang ilmuwan serbabisa. Selain dikenal sebagai seorang ahli astrologi (ilmu perbintangan), Abu Mashar juga menguasai matematika, astronomi, dan filsafat Islam. Ia menekuni matematika saat berusia 47 tahun, setelah kenal dan berkecimpung dalam dunia astrologi.

Ia merupakan murid dari seorang guru yang sangat legendaris, yakni al-Kindi, ilmuwan Muslim di abad ke-8 M. Seperti sang guru, nama Abu Mas’har begitu populer di dunia Barat. Abu Ma’shar telah berjasa menyatukan pelajaran ilmu perbintangan dari berbagai sumber Islam yang luas.

Menurut Yamamoto, Abu Ma’shar juga merupakan salah satu orang yang berpe -ran sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Sayangnya, tak banyak umat Islam di era modern yang mengetahui kisah hidup Abu Mashar. Para sejarawan sains pun sangat jarang mengupas kisah hidup sang ilmuwan.

Tak heran, jika banyak hal dalam sejarah hidup sang ilmuwan yang masih misterius dan menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Menurut Yamamoto, Abu Ma’shar terkenal dengan karya astrologinya. Yamamoto menuturkan, Abu Ma’shar pernah menulis mengenai ilmu perbintangan, termasuk tabel astronomi. Ada beberapa pertanyaan mengenai tanggal kelahiran dan kematiannya, karena pendahulunya mengetahuinya hanya semata-mata berdasarkan pada kutipan horoskop (zodiak) yang tak dikenal dalam bukunya yang bertajuk The Revolutions of the Years of Nativities, papar Yamamoto.

Sejarah hidup Abu Ma’shar, tutur Yamamoto, ditulis seorang sejarawan pada abad ke-10 M bernama Ibnu al-Nadim (wafat 995/998 M). Salah satu misteri yang belum terungkap secara pasti tentang Abu Ma’shar adalah tahun wafatnya. Yamamoto memperkirakan, Abu Ma’shar wafat di Irak pada tahun 886 M. Sementara itu, al-Biruni (973-1048M) dalam karyanya bertajuk Chronology of the Ancient Nation menuturkan bahwa Abu Ma’shar masih melakukan pengamatan astrologi pada 892 M atau enam tahun sesudah tahun kematian yang disebutkan oleh para sejarawan. Al-Biruni dalam karyanya Book of Religions and Dynasties juga mengambil referensi dari karya Abu Ma’shar mengenai posisi bintang yang ditulis pada 896/897 M.

Karya tersebut ditulis Abu Ma’shar ketika berusia lebih dari 100 tahun. Ibnu al-Nadim dalam karyanyaFihrist mengungkapkan bahwa Abu Ma’shar merupakan ilmuwan dan filsuf yang menentang pandangan Helenistik. Pandangan Abu Ma’shar ini kemudian dimanfaatkan al-Biruni untuk memetahkan pendapat filsuf Islam sebelumnya yakni al-Kindi (801-873 M). Kemasyhuran Abu Ma’shar sebagai ahli astrologi hebat di istana Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad membuat namanya masuk dalam cerita tentang astrologi.

Bahkan, Ibnu Tawus (1193n1266 M) mengumpulkan beberapa anekdot Abu Ma’shar dalam karyanya berjudul Faraj al-Mahmum (Biografi Para Astrolog). Sayangnya, nyaris semua karya Abu Ma’shar dalam astronomi telah hilang, dan hanya karya astrologinya dalam bahasa Arab yang masih tersisa. Nama Abu Ma’shar tampaknya lebih populer di dunia Barat, ketimbang di dunia Islam modern. Nyaris tak ada pelajaran yang diajarkan di sekolah di Indonesia yang menyebut nama dan kontribusi Abu Ma’shar di era kekhalifahan. Sungguh sangat ironis.

Kontribusi Sang Astrolog

iapa yang membaca akan mengetahui. Siapa yang menulis tak akan pernah mati. Peribahasa orang Perancis itu menemukan faktanya. Meski Abu Ma’shar telah tiada belasan abad silam, namun namanya tetap dikenang dan diperbincangkan kalangan ilmuwan, khususnya di dunia Barat.

Salah satu buku yang ditulis Charles Burnett bertajuk Abu Ma’shar: The Abbreviation of the Introduction to Astrologymerupakan bukti betapa pemikiran sang ilmuwan masih dianggap penting oleh dunia Barat.

Richard Lemay dalam karyanya berjudul Abu Ma’shar and Latin Aristotelianism in the Twelfth Century, The Recovery of Aristotles Natural Philosophy through Iranian Astrology, masih tertarik dengan pemikiran sang astrolog Muslim.

Dalam bukunya itu Lemay berargumentasi bahwa tulisan Abu Ma’shar sangat mirip dengan salah satu karya terpenting teori Aristoteles tentang alam. Salah satu karya Abu Ma’shar dalam bidang astrologi yang sangat berpengaruh berjudul Kitab al-Mudkhal al-Kabir. Kitab ini terdiri dari 106 bab.

Karyanya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1133 M dan tahun 1140 M. Selain itu, buku yang ditulis Abu Mafshar pun diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Tak heran, jika buah pikir Abu Mafshar telah memiliki pengaruh yang signifikan kepada ahli filsafat Barat, salah satunyai Albert The Great.

Abu Ma’shar juga menulis sebuah versi ringkas dalam mengenalkan karyanya Kitab Mukhtafar alfMudkhalyang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Adelard of Bath. Buku lainnya yang ditulis Abu Ma’shar yang terkenal dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin

bertajuk Introductorium in Astronmiam.

Buku itu merupakan terjemahan dari kitab berbahasa Arab yakni Kitab al-Mudkhal al-Kabir ila eIlm Ahkam Annujjum, yang ditulis Abu Ma’shar di Baghdad pada 848 M. Kali pertama, kitab itu dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin oleh John of Seville pada 1133 M, dan selanjutnya, literatur dibuat lebih sedikit dan ringkas oleh Herman of Carinthia pada 1140 M.

Karya lainnya yang ditulis Abu Ma’shar adalah sejarah astrologi yang memperkenalkan tradisi Sasaniah. Ini dibuat pada era kekuasaan Khalifah al-Mansur, khalifah kedua pada dinasti Abbasiyah. Ini merupakan bagian strategi politik al-Mansur untuk memberikan sebuah yayasan untuk lahirnya dinasti baru, dan tentu saja itu digunakan paling efektif antar Dinasti Abbasiyah sebelumnya.

Buku Abu Ma’shar yang monumental dalam kategori sejarah adalah Kitab al-Milal wa-l-Duwal (Kitab tentang agama-agama dan dinasti). Buku itu terdiri dari delapan bagian dalam 63 bab. Karyanya yang satu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dibaca oleh Roger Bacon, Pierre dfAilly, dan Pico della Mirandola (1463n1494 M).
Pemikiran Abu Ma’shar ini tentunya juga dibahas dalam karya besar mereka. Karya lain dalam kategori ini meliputi Fi dhikr ma tadullu elayhi al-ashkhas al-fulwiyya, Kitab aldalalat elaalittisalat waqiranat al-kawakib,dan Kitab aluluf (Book of Thousands), yang tidak bertahan lama tapi ringkasannya dipelihara oleh Sijzi (945-1020M).

Karya lainnya dari sang ilmuwan dikategorikan dalam genethlialogi, ilmu pengetahuan mengenai pemilihan kelahiran. Salah satu contoh adalah Kitab Tahawil Sini al-Mawalid (Book of the revolutions of the years of nativities).
Buku ini juga telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Yunani. Kitab itu terdiri dari sembilan volume dan terbagi menjadi 96 bab. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani hanya lima volume dan terdiri dari 57 bab.
Karya lain Abu Ma’shar yang masuk dalam kategori ini adalah Kitab Mawalid al-Rijal wa-al-Nisa atau (Buku Asal Pira dan Wanita). Dalam karyanya Introductorium in Astronomiam and De magnis coniunctionibus, Abu Ma’shar, mengatakan, dunia diciptakan ketika tujuh planet bergabung dengan Aries, dan ramalan itu bisa berakhir ketika fenomena yang sama terjadi pada Pisces.
Terjemahan kedalam bahasa Latin dan dalam bahasa sehari-hari menjadikan karyanya beredar luas di Eropa dan menjadi sumber inspirasi untuk literatur penggambaran astrologi dengan beberapa pengarang minor awal era modern.

Astronomi
Abu Ma’shar mengembangkan model planet yang beberapa penafsiran sebagai sebuah model heliosentrik. Ini menunjukkan pada revolusi orbital planet diberikan sebagai revolusi heliosentrik lebih baik dari pada revolusi geosentrik dan hanya diketahui teori planet di kejadian ini dalam teori heliosentrik.

Karyanya dalam teori planet tidak dapat bertahan, tapi data astronomnya terakhir direkam oleh al-Hashimi dan al-Biruni, jelas Bartel Leendert van der Waerden dalam karyanya The Heliocentric System in Greek, Persian and Hindu Astronomy. (rpb) www.suaramedia.com

Baca Selengkapnya......